Dunia Pendidikan Kita
>

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Monday, March 12, 2018

Pendidikan Sebagai Sarana dan Pendidikan Sebagai Tujuan










Wajah pendidikan Indonesia makin hari makin membaik walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak kejadian – kejadian di lingkup sekolah yang terjadi diluar dugaan. Ada kejadian tidak dapat dimengerti dengan akal sehat. Beberapa kejadian seperti kriminalisasi terhadap guru yang dilakukan oleh siswa, tindakan kekerasan yang dilkukan oleh guru terhadap sisw, bahkan beberapa hari yang lalu sempat viral di media sosial, dimana siswa SMA di salah satu sekolah di NTT memaki guru lewat status facebooknya.

Kejadian – kejadian ini sudah terjadi dan menimbulkan banyak presepsi, ada yang mempersalahkan siswa, ada juga yang mempersalahakan guru dan sekolah, dan ada juga yang menyebut bahwa ini kesalahan orang tua dan lingkungan. Berangkat dari beberapa problem ini saya mencoba menulis sebuah opini dari sebuah pengalaman pribadi sebagai guru, dan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber literasi.

Kecendrungan seseorang yang berpikir tentang pendidikan umumnya dapat dibagi menjadi dua kategori yakni orang yang memandang pendidikan dari sudut pandang mikro dan makro.

Dari sudut pandang makro orang akan melihat pendidkan sebagai sarana menuju tujuan. Orang yang memandang pendidikan dari sudut pandang makro akan selalu menghubungkan pendidikan dengan hal - hal realistis yang lebih luas, dilihat dari relevansinya dengan konteks kekinian, dilihat dari kebutuhan masyarakatnya, dan cita - cita ideal masyarakat yang akan dibentuk melalui pendidikan. Orang tipe ini akan melihat pendidikan sebagi sarana membangun bangsa yang lebih baik. pendidikan akan selalu dihubungkan dengan kebutuhan riil. Tipe pemikir seperti ini cendrung aakan melontaarkaan pertaanyaan - pertaanyaan fundamental, misalnya apa tujuan akhir dari upaya pendidikan untuk baangsa kita saat ini? Jenis pendidkan yang bagaimana yang akan membawa generasi kita dan bangsa kita kepada situasi yang didambakan?
Sedangkan tipe kedua adalah tipe orang yang memandang pendidikan dari sudut pandang mikro. Jenis pemikir sepeti ini melihat pendidikan sebagaii tujuan sehingga ia akan lebig cenderung prhatian kepada haal - hal yang bersifat teknis operasional. Orang - orang dengan tipe ini akan cenderung untuk melotarkan pertanyaan - pertanyaan yang bersifat teknis, misalnya metode pembelajaran apa yang cocok untuk diterapkan disekolah, kapankah seluruh anak usia sekolah dapat memperoleh pendidikan dibangku sekolah?
Dalam taraf nasional diperlukan kombinasi secara seimbang antara kedua tipe caara pandang atau pendekatan ini. Melalui pemikir pendidikan yang memandang pendidikan sebagi sarana, setiap masalah pendidkan aakaan selalu kita tempatkan dalam suatu konteks demografis, politis, ekonomis, dan konteks lainya. Sebaliknya melalui pemikir yang menempaatkaan pendidikan sebagai tujuan, maka setiap masalah akan dikaji daari segi teknis operasional dimana akan mengutamakan pemecaahan masalah pendidikan berdasarkan kaidah - kaidah pendidikan. Jika pendidkan diperlakikan sebagai tujuan , sangat penting untuk menciptakan situasi pendidikan yang relevan dan bermutu. sebaliknya pendidkan dtempatkan sebagai sarana akaan mengontrol disorientasi daan relevansi pendidkan dengan kondisi riil masyarakat saat ini. Keterpakuan pada salah satu pendekatan akan melahirkanpendidkan yang kurang sehat. Misalnya, apabila terus - menerus melihat pendidkan sebagai sarana dan lupa melihatnya ebagai tujuan, maka yang akan diperoleh hanyalah gagasan - gagasan mengenai perubahan - perubahan yang harus diadakan dibidang pendidikan untuk menyesuaikan dengan situasi baru dalam masyarakat tetapi tidak akan tahu bagiamana gagasan - gagasan tersebut diterapkan secara teknis operasional dalam pendidikan gara tidak terjadi disorientasi serta kebingungan diantara diatara para pelaksana pendidikan. Sebaliknya, apabila pelaksana pendidikan hanya fokus melihat hal - hal teknis operasional dan mengabaikan persoalan - persoalan besar yang terjadi di luar pendidikan, maka yang akan diperoleh ialah proses pendidikan serba lancar, tetapi tidak relevan untuk menjawab persoalan zaman. Oleh N. Postman cara pemikran seperti ini diibaratkan dengan orang yang suka berjalan diwaktu tidur (Pendidikan Pos Modernisme, Mukhrizal Arif, 2014, hal. 319)

Karena itu untuk memajukan pendidkan di negeri kita membutuhkan kerja sama semua pihaak dengan cara pandang kita masing - masing, sehingga bisa memebrikan kontribusi yang positif untuk kemajuan pendidkan di negeri kita Indonesia.


Penulis : Remigius Ua, S. Pd
Guru Matematika di SMP St. Yosef Maubesi, Insana Tengah - TTU - NTT

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages