"Aku pernah bermimpi menjadi seorang sahabat yang setia, dapat melayani
dapat melayani sahabat – sahabat’Q dalam kesusahan,dapat menjadi sumber ketenangan, sumber keceriaan dan sumber kebahagiaan,,, namun itu hanya mimpi"
dapat melayani sahabat – sahabat’Q dalam kesusahan,dapat menjadi sumber ketenangan, sumber keceriaan dan sumber kebahagiaan,,, namun itu hanya mimpi"
Kala senja berduka, rintihan air mata pilu sang langit menerobos ke bumi perlahan, membasahi rumput liar yang terlihat kegirangan dengan kesedihan itu.
Dalam diam, aku terus memperhatikan langit yang menangis tersedu – sedu namun di sambut kegirangan oleh rumput yang bergoyang. Terkadang sahabat alam lainnya pun bergoyang sejadi – jadinya dengan kesedihan sang langit.
Rasanya aku ingin membentak semua rumput, pohon bahkan bunga yang sedang bersorak kegirangan dengan tangis langit, namun angin menahanku. Secercah kata manis dari angin berdendang di telingaku: “Lihatlah pengorbanan langit kepada sahabat – sahabatnya. Kelak kamu akan mengerti arti persahabatan itu dari mereka... ”
Sejenak aku berpikir keras mencerna kalimat itu namun apa daya mampuku menyerap semua itu. Otak yang terus ku pacu agar segera menemui jawaban dari perkataan angin ternyata tidak mampu. Ku terdiam menatap dalam kebisuanku. Namun aku tetap percaya akan mengertinya kelak.
****
Sejak senja kelabu itu, aku semakin rutin menatap langit. Kini hobby baruku ini semakin menyita perhatianku. Aku menyadari bahwa arti persahabatan yang di maksudkan oleh angin adalah bagaimana langit memberikan kesejukkan bagi sahabat – sabahatnya. Namun belum dapat ku pahami mengapa langit begitu tulus kepada sahabat – sahabatnya hingga tidak mempedulikan dirinya sendiri yang tengah dilanda kesedihan dan keterpurukan? Perlahan aku bertanya dalam diam : “Mungkinkah langit sudah MATI RASA?”
Dalam diam, terus ku pandangi langit. Mencari jawaban dari padanya.
*****
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktu pun terus bergulir dengan lincahnya. Aku masih di sini. Terdiam membisu menatap langit. Menunggu jawaban yang tak kunjung ada. Hingga angin kembali menyapaku dan menyadarkanku bahwa hari ini adalah hari baru tukku memulai kehidupanku di masa “PUTIH ABU – ABU”. Hari pertama yang ku harapkan dapat menjadi awal yang baik tukku dalam mencari jati diri dan menelusuri makna persahabatan.
Hari – hari baruku dihiasi dengan sejuta warna – warni dan bukan lagi hitam putih seperti alur menyeramkan dalam mimpiku karena disana ku mulai mengenal teman – teman baru. Aku yang terbiasa dengan kesepian, kesunyian dan kesendirian kini di hadapkan pada situasi yang 1800 berbeda.
Disana tidak ada kesepian, kesunyian dan kesendirian karena disana penuh dengan keramaian dan kegaduhan. Aku bagaikan seonggok manusia rapuh yang tersesat di kerumunan manusia – manusia kokoh. Aku takut dan rasanya ingin terjatuh namun lagi – lagi angin datang dan meyakinkanku tuk terus maju. Angin tetap menopang raga lusuhku.
Detik – demi detik alunan waktu berputar dengan sangat lincah. Hari – hari yang kurasa aneh pada awalnya kini semakin ku nikmati. Yah, ku nikmati bersama teman – teman di sekitarku. Kata Bougenvile, meraka lebih tepat disebut sahabat. Rasanya bangga sekalii.. Aku seorang gadis buruk rupa yang begitu rapuh mampu mempunyai sahabat??? Sungguh rasanya awan bersorak bersamaku hingga ia menerbangkanku memeluk langit yang begitu memahami sukacitaku.
Yah, mereka sahabat – sahabatku. Aku bersorak kegirangan karena aku tak perlu lagi iri kepada langit yang mempunyai banyak sahabat karena saat ini aku juga telah mempunyai sahabat. Sahabat yang menemaniku dalam suka dan duka. Sahabat tempat ku berbagi cerita tentang kehidupanku yang sepi. Sahabat yang selalu menjadi sumber motivasiku. Mereka sahabat yang sangat ku sayangi..
*****
Keindahan persahabatan yang kurasakan sungguh membuatku nyaman hingga aku mulai lupa akan kesendirian, kesepian dan keterbelakangan. Aku semakin percaya diri tuk maju bersama sahabat – sahabatku. Meskipun persahabatan yang aku rajut bersama mereka tak selalu sejalan dan juga terkadang menjengkelkan, saling marah – marah, cuek, namun itulah bagian dari bumbu – bumbu persahabatan.
Mereka adalah orang – orang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku.Mereka yang selalu berada di sampingku, suka duka kami lalui bersama dan saling menjaga satu sama lain. Dari mereka aku belajar banyak hal terutama dalam hal kepercayaan.
Dari mereka aku belajar menjadi seorang pendengar yang baik, menjadi pribadi yang berani tuk tampil dengan segala kesederhanaan diri, sopan, murah hati, saling mengasihi, dan lain sebagainya..
Aku selalu merasakan kebahagiaan mendalam saat bersama mereka hingga melupakan semua kepedihan hati yang ku alami.
*****
Sore itu dalam senyuman aku berjalan mengintari taman kecil di sekitar lapangan tempat anak – anak di kampungku bermain layangan. Langit tersenyum dan bernyanyi ria bersamaku. Ia mengajakku berlari kecil menerobos padang ilalang yang dengan gemulainya menyapa kami. Angin yang sedari tadi menggandeng tanganku berhenti tepat di ujung sebuah bukit. Aku duduk bersandar pada batu sambil memandangi alam yang begitu indah. Semuanya tampak menyejukkan. Dalam senyuman, aku bercerita pada langit dan angin:
“Hey, kalian tau tidak, aku sungguh bahagia. Ternyata dunia ini tidak hanya berwarna hitam dan putih saja. ”
Angin tersenyum dan berkata: “Oh yah? Lalu?”
Dalam senyum, aku melanjutkan:
“Aku bahagia sekali. Karena warna hitam dan putih itu hanyalah bagian ilusiku saja karena aku tak pernah tau ternyata ada warna lain selain itu”.
Langit pun seakan tak mau kalah:
“Iya Meyzsa. Dunia itu punya banyak warna. Setiap warnanya punya bermacam arti. Seperti persahabatan yang kamu rajut saat ini, punya berbagai arti. Ada kalanya kamu bahagia bersama mereka dan ada kalanya kamu bersedih karena mereka. Semuanya itu relatif sayang. Keindahan persahabatan itu bukan hanya saat kamu dapat tersenyum karena mereka tetapi bagaimana kamu mampu menjadi sumber senyuman untuk mereka. Keindahan persahabatan itu saat kamu rela mengorbankan perasaanmu tuk terluka demi melihat mereka bangkit dari kesakitan hati mereka. Saat mereka benar terhibur karena kamu”
Aku terhenyak dengan jawaban langit yang begitu syahdu dikupingku.
Aku bertanya perlahan: “Lantas, itukah alasanmu rela bersedih demi kebahagiaan sahabat – sahabatmu?”
Dengan seulas senyum yang tersungging manis, langit menjawab : “Ya. Akhirnya kamu mampu mengetahui alasannya sayang. Aku akan selalu memberikan apapun yang mereka butuhkan dan mereka inginkan tanpa mempedulikan perasaanku sendiri karena hidupku akan terasa sempurna saat aku mampu memberikan kebahagiaan kepada mereka”.
“Bahkan saat kamu tidak pernah di perhitungkan dalam kebahagiaan mereka?” Sanggahku tegas.
“Yah. Bahkan aku rela tidak di perhitungkan dalam kebahagiaan mereka asalkan mereka dapat berbahagia. Karena itu saja sudah membuat aku merasa bahagia”.
Kalimat sederhana namun mempunyai makna yang mendalam. Aku tersenyum meski tak ku tau arti senyumanku. Namun ku pastikan, senyum itu tulus keluar dari dalam hatiku.
Aku menatap langit penuh bahagia. Terlontar kata indah tak berpuitis dari bibir mungilku:
“Aku ingin menjadi seperti langit yang selalu memberikan kesejukkan bagi sahabat – sahabatku. Yang aku inginkan adalah kebahagiaan sahabat – sahabatku. Aku tidak ingin lagi merepotkan mereka dengan cerita hidupku yang rumit tuk di cerna. Yang aku inginkan adalah kebahagiaan mereka.
Angin, bantu aku sampaikan pesan ini tuk sahabat – sahabatku..
Katakanlah bahwa aku sangat menyayangi mereka. Katakanlah kepadaku apa yang ingin mereka keluhkan. Katakan saja.
Katakan kepadaku apa yang mereka butuhkan. Katakanlah.
Karena aku akan berusaha semampu mungkin tuk memenuhi semua itu demi kebahagiaan mereka.
Katakan juga kepada mereka harapanku ini bahwasanya aku mohon jangan membawaku dalam kebahagiaan kalian karena aku hanyalah seoongok manusia rapuh yang barangkali tercipta dari kesedihan dunia.
Hingga pada akhirnya aku akan terus hilang, hilang, hilang dan semakin menghilang dari hidup kalian agar di situ aku dapat merasakan arti diriku untuk kalian, sahabat.”
Aku tersenyum lega. Kini aku merasa begitu berarti. Aku akan selalu merasa berarti demi sahabat – sahabatku. Walaupun cibiran manusia durjana lainnya mengikis rasa percaya diriku dan keberartiannya diriku, namun aku akan selalu berusaha tuk menyatakan kepada semua orang bahwa aku mampu menjadi gadis yang berarti dan akan selalu berarti demi mereka yang ku cintai...
Penulis cerpen : Melani Margaritha Sau, Salah satu mahasiswa FIP UNIMOR Prodi Pendidikan Matematika

No comments:
Post a Comment